Budaya-Tionghoa.Net | Para ahli paleontologi, khususnya yang meneliti asal-usul manusia, masih terlibat silang sengketa menyangkut asal manusia modern, Homo sapiens. Sejak dua dasawarsa terakhir ini, terus dipertanyakan, akar geografis manusia modern. Apakah berasal dari Eropa, sebagai keturunan manusia lembah Neandertal atau gua Cro Magnon? Dari Asia, sebagai keturunan Homo erectus Ngandong di Indonesia atau Maba di Tiongkok? Ataukan berasal dari Afrika, seperti yang diyakini banyak pakar paleontologi? Semakin banyak data yang dikumpulkan, menunjukan bahwa manusia modern terbentuk di Afrika, lalu menyebar ke seluruh dunia.
Month: June 2011
Budaya sebagai Medan Pertarungan Kuasa
Budaya-Tionghoa.Net | Cultural studies adalah salah satu paradigma yang cukup banyak memberikan perhatian terhadap kebudayaan. Jika selama ini studi mengenai kebudayaan terkesan menjurus pada karakter dikotomis, hitam-putih mengenai prosesi pembentukan dan kesimpulan-kesimpulan terhadap apa itu yang disebut kebudayaan, maka cultural studies lebih luas dan mendetail. Dengan perhatian itulah pembacaan atas ragamnya realitas budaya juga berhasil menempatkan sub-sub kebudayaan sebagai satu kenyataan spesifik dari paradigma modern lainnya. Salah satu contohnya adalah pembacaan atas sub-”kebudayaan” yang bernama komunikasi. Komunikasi bagi cultural studies bukanlah semata refleksi budaya manusia tanpa efek. Bahkan kebudayaan bisa pula dimengerti sebagai totalitas tindakan komunikasi dan sistem-sistem makna.
Adat Istiadat Pernikahan Dalam Budaya Tionghoa
Budaya-Tionghoa.Net | Masyarakat Tionghoa di Indonesia adalah masyarakat patrilinial yang terdiri atas marga / suku yang tidak terikat secara geometris dan teritorial, yang selanjutnya telah menjadi satu dengan suku-suku lain di Indonesia. Mereka kebanyakan masih membawa dan mempercayai adat leluhurnya. Tulisan ini membahas dua upacara adat yang cukup dominan dalam kehidupan yaitu tentang adat pernikahan dan adat kematian.
Qi Shi – Hari “Valentine” Tionghoa

“Bungker Budaya” yang Makin Terkuak
Budaya-Tionghoa.Net | Tahun baru imlek sudah berlalu beberapa bulan lalu. Itulah dimulainya rengkuhan waktu dan juga dipercaya sebagai lembaran “nasib” baru bagi kalangan Tionghoa, terutama yang merayakan dan siapa pun yang memercayai hajatan besar ini. Tahun Baru Imlek di Indonesia sudah diakui pemerintah dan menjadi hari libur nasional.
Jelas pengakuan ini bukan semata memberikan legitimasi ulang atas sebuah eksistensi kultural kaum Tionghoa di Indonesia. Lebih dari itu, merupakan transformasi budaya nasional Indonesia terhadap subkultur Tionghoa yang selama ini sebagai bangsa telah keliru dalam menyikapinya. Fobia kultural Tionghoa oleh rezim terdahulu sangat ditekankan karena dikhawatirkan jika kultur Tionghoa eksis bakal menjadi kultur yang setara dengan kultur lokal. Ia bisa menjadi pemicu ketidakamanan, padahal hal itu menjadi prasyarat mutlak pembangunan ekonomi dan status quo rezim politik.